The Sandman Netflix Review: 3 Alasan Kenapa Kamu Harus Tonton

The Sandman

The Sandman jadi salah satu karakter DC yang diangkat ke produksi yang lebih besar, lantas apakah film The Sandman Netflix layak ditonton?

The Sandman ialah serial rilisan Netflix yang diangkat beradasar pada komik dengan judul yang sama di tahun 1989 – 1886, karya Neil Gaiman, yang dipublikasikan oleh DC Comics.

Komik dan filmnya, menyajikan kesamaan kisah tentang perjalanan Morpheus dan tujuh persona yang dimilikinya (Endless) pasca dikurung dalam sebuah ritual di tahun 1916.

The Sandman Trivia

1. Development Film Yang Alot

Sebelum akhirnya dirilis dalam bentuk series terbatas di Netflix, tarik-ulur penulisan dan pengembangan adaptasi komik ini ke film sudah pernah dilakukan jauh sebelum itu.

Misalnya di era 1991 – 1996, bersama Ted Elliot dan Terry Rossio di bagian script, dan Roger Avary sebagai sutradara. Lantas gagal, karena Roger Avary tersandung creative issue.

Lanjut ke era 1998, dimana kemudi kini diambil alih oleh William Farmer dalam pengembangan screenplay, namun ditolak Neil Gaiman karena dianggap terlalu radikal (jauh beda dengan komik).

Lompat ke era 2013 – 2016, saat David S. Goyer dan Joseph Gordon-Levitt diusung jadi produser, dan Eric Heisserer untuk menulis ulang naskah. Namun gagal lanjut, karena pihak DC dan Joseph Gordon-Levitt tidak mencapai kesepakatan, terkait kontrak.

Kemudian di sekitar 2018, David S. Goyer meminang Allan Heinberg yang sempat menolak tawaran Neil Gaiman, dan menyebut bahwa kisah “Sandman” dianggap tidak bisa difilm-kan, meski pada akhirnya sepakat untuk turut berkontribusi.

2. Sebelas Episode Dari Netflix

Dari alotnya pengembangan kisah “Sandman“, pada 2019 lalu Netflix berhasil meluluhkan hati DC, dan mendapat hak untuk produksi dan menayangkan adaptasi komik tersebut dalam sebelas episode berikut ini:

  • Sleep of the Just
  • Imperfect Host
  • Dream a Little Dream of Me
  • A Hope in Hell
  • 24/7
  • The Sound of Her Wings
  • The Doll’s House
  • Playing House
  • Collectors
  • Lost Hearts
  • Dream of a Thousand Cats
    • Calliope (Episode Tambahan)

Proses produksi memang dilakukan tepat sebelum pandemi COVID-19 datang (Maret, 2020), sehingga molor hingga menjelang akhir 2020.

Adapun dalam proses shooting lebih banyak dilakukan di London, serta beberapa d aerah Inggris lainnya, serta New York.

Dalam proses produksi tidak kurang hampir sejumlah 3000 elemen harus diciptakan, untuk melengkapi visualisasi adegan dalam film ini.

Hingga pada akhirnya, pada Juli 2022 barulah trailer resmi dipublikasikan, pertama kali pada even tahunan yakni Comic-Con di San Diego, dan resmi dirilis secara global pada 5 Agustus 2022 lalu.

Sejauh ini film The Sandman Netflix dan DC ini menduduki chart 10 besar terpopuler di seluruh dunia, dan setidaknya telah lebih dari 120 juta jam ditonton.


The Sandman Review

1. Cukup Sukses Mengadaptasi “Look” Dari Komik

Tom Sturridge yang memerankan karakter Morpheus atau Dream, sukses membawa penonton untuk turut bersimpati atas perjalanan hidupnya.

Terlebih, faktor tampilan fisik yang pucat dan kurus, dan dikuatkan dengan kesan “acak-acakan” dari potongan rambutnya, cukup sesuai dengan penggambaran di komik.

Meski, pembeda terlihat begitu jelas di lini kostum, dimana Dream selalu digambarkan mengenakan jubah, sedangkan di serialnya hal itu nihil.

Menurut kami, ada beberapa pertimbangan yang mungkin diputuskan oleh Neil Gaiman sebagai si pemilik kisah aslinya, yang utama ialah soal perkembangan jaman.

Tentu, beberap film di era 80an dan 90an, gambaran pengembara akan selalu digambarkan dengan kostum jubah lusuh. Namun, tampilan minimalis yang muncul saat ini, lebih relevan.

Adapun tokoh lain, seperti Lucifer (Gwendoline Christie), Joana Constantine (Jenna Coleman) dan karakter lainnya cukup sejalan dengan penggambaran yang ada di komik.

2. Menghadirkan Fantasi Yang Fresh Dibanding Film Sejenis Lainnya

Belakangan memang jagat sinema selalu diisi dengan kehadiran tokoh dan karakter ala Marvel, yang “ditelanjangi” habis-habisan, terutama dari segi ceritanya.

Sajian dengan bentuk “multiuniverse” jadi kian tidak spesial dan terasa sangat dipaksakan. Tentu kami sadar, layaknya itu dilakukan karena banyak karakter atau film mereka terlalu melekat pada satu aktor ataupun aktris.

Sebut saja seperti Iron Man, yang diproduksi habis-habisan dengan mengeksploitasi Robert Downey Jr, apakah kamu setuju?

Nah, menurut kami The Sandman mencoba menyajikan sajian yang fresh, terutama mengusung tema fantasi yang kental, dan berani menggaet aktor dan aktris alternatif, dibanding jajaran super-megabintang seperti yang dilakukan Marvel.

Terlepas daripada itu, kita mungkin sudah cukup lupa kapan terakhir kali sub-genre superhero yang kental nuansa fantasi dirilis.

Sehingga, dari premisnya saja yakni Morpheus dengan tujuh personanya (Destiny, Death, Dream, Destruction, Desire, Delirium, dan Despair) telah memiliki nilai tambah bagi para pecinta film bergenre superhero.

Terlebih dengan pemanfaatan hampir 3000 efek visual dalam proses produksinya, menurut kami kesebelas episode-nya cukup memanjakan mata, dan menguatkan elemen fantasi itu sendiri.

3. The Sandman Mengingatkan Kita Pada Constantine (2005)

The Sandman memang memiliki elemen supernatural-horror yang kuat, meski lebih tepat bila disebut sepenuhnya sebagai fantasy.

Meski begitu, bila kamu menyaksikan babak tengah dari serial ini, ketika Morpheus harus bertemu dengan Lucifer, ini mengingatkan kami pada film Constantine (2005).

Dimana, dalam film Constantine (2005), karakter utama John Constantine (Keanu Reeves) harus menipu Lucifer untuk mendapat hidupnya kembali.

Apakah kamu tidak asing mendengar premis tersebut? Yak, itu pula yang ada pada episode ke 4 yakni “A Hope in Hell“.

Terlebih nama Constantine juga dimunculkan dalam serial ini, melalui hadirnya Johanna Constantine, bagian inilah yang menurut kami menarik.

Dimana, ada kesinambungan antara serial ini, dengan film Constantine (2005), meski secara tidak langsung.


Penutup

Demikianlah ulasan tentang film The Sandman DC yang kali ini bekerjasama dengan Netflix dalam proses produksi maupun penayangannya. Overall, menurut kami meski pace-nya terbilang lambat, tapi cukup worth it untuk ditonton!