6 Film Tentang Depresi Ala Sineas Lokal Dan Hollywood, Joker Minggir Dulu Ya

Film Tentang Depresi

Meski populer, film Joker (2019) terlalu jauh dari kenyataan, untuk dianggap relate dengan kehidupan sehari-hari. Beda hal dengan 6 judul film tentang depresi berikut, yang kami anggap gambarkan gangguan depresi secara lebih baik dan masuk akal.

Apa Itu Depresi?

Sumber: Helix-center.com

Merujuk pada American Psychological Association (APA), istilah depresi ialah kesedihan atau keputusasaan mendalam yang bertahan selama beberapa waktu, yang mengganggu keberfungsian seseorang pada aktivitas kesehariannya, sosialnya dan terkadang diiringi dengan beberapa gangguan pada aspek fisik.

Umumnya, individu yang mengalami gangguan ini, memiliki kesulitan dalam berkonsenterasi, merasa tidak berharga, merasa bersalah, dan terkadang juga muncul pikiran bunuh diri.

Bila kamu merasa hal demikian dan gejala serupa, tentu kami turut bersimpati, kami pun menghimbau agar kamu mendapat bantuan profesional, sehingga lekas membaik.

Rekomendasi Film Tentang Depresi

Sumber: Theaggie.org

Mental Health Movie jadi sebuah agenda besar di industri perfilman yang belakangan ini muncul, baik dari para sineas lokal maupun internasional.

Secara umum, para sineas berusaha menyampaikan simpati mereka terkait kesehatan mental dan ragam permasalahan psikologis, yang muncul di era modern saat ini. Lantas mana saja film mental illness yang worth it untuk ditonton?

Film Tentang Depresi ala Hollywood

1. The Royal Tenenbaums (2001)

  • Durasi: 109 menit
  • Genre: Comedy-Drama
  • IMDB Rating: 7,8 / 10
  • Rotten Tomatoes Score: 91 / 100 %

Secara sederhana The Royal Tenenbaums (2001) mengajak kamu untuk melihat hari-hari seorang lelaki tua dari tiga orang anak, yang bernama Royal (Gene Hackman) dalam mengisi hari-hari terakhirnya sebelum ajal, karena Kanker yang dirinya idap.

Sebagai seorang ayah, dahulu ia adalah pribadi yang pemurung, kasar, tidak suportif dengan selalu memberi keritik, dan secara keseluruhan tidak pernah benar-benar perduli dengan keluarganya.

Ketiga anaknya yang telah dewasa, rupanya menurunkan sifat “buruk” dari sang ayah dan tanpa segan meluapkannya, meski sang ayah tidak akan hidup lama lagi.

Dari sekilas cerita itu saja, premis tersebut terdengar satir namun lucu. Kami sangat yakin, kamu akan tertawa sepanjang film terutama karena respon tiap karakter sangat sulit ditebak.

Tetapi kamu juga akan menyadari, bahwa film ini menggambarkan kerasnya realita yang harus dihadapi manusia ketika dewasa.

Yaitu, meski terkadang hanya keluarga harapan kita satu-satunya ketika dalam menghadapi kesulitan, tak selamanya bantuan akan datang, terlebih bila pribadi kita memang problematik.


2. The Perks of Being a Wallflower (2012)

  • Durasi: 103 menit
  • Genre: Drama
  • IMDB Rating: 8 / 10
  • Rotten Tomatoes Score: 85 / 100 %

The Perks of Being a Wallflower (2012) menceritakan fase terberat dalam hidup karakter Charlie (Logan Lerman), seorang remaja berumur 15 tahun yang mengalami depresi berat, selepas sepeninggal sahabatnya yang bunuh diri.

Terlebih, dirinya diharuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, yakni SMA. Rupanya suasana semarak pada sekolah barunya itu, membuatnya teralienasi (terasa dikucilkan).

Meski begitu, ada dua orang senior yang cukup akrab dengan Charlie, keduanya bernama Patrick (Ezra Miller) dan Sam (Emma Watson), yang notabene adalah kakak-beradik.

Titik didih dalam film ini tentu ketika secara perlahan, permasalahan juga turut muncul pada karakter Patrick yang rupanya seorang gay, sedangkan Sam yang “gampangan” dan selalu mencoba hal-hal seksual dengan banyak teman satu sekolahnya. Lantas, bagaimana kelanjutannya?

Film yang satu ini memang cocok dianggap sebagai salah satu Mental Health Movie terbaik, karena sudah sedari awal menghadirkan pada film mental illness sesungguhnya (depresi), yang dikuatkan dengan ragam shoot pada situasi rehabilitasi psikologis yang dijalani oleh si karakter utama, Charlie.

Terlebih, isu orientasi seksual dan perilaku seksual remaja yang kental dalam film ini, memang cukup dekat dengan kondisi Amerika Serikat saat itu, bahkan hingga kini.

Meski begitu, film mental health yang satu ini memang sedari awal telah membangun nuansa yang kelam, tetapi seiring ketiga karakter utama mampu memecahkan masalah hidupnya masing-masing, kita sebagai penonton akan turut merasakan optimisme dari tiap karakter.


3. Manchester by the Sea (2016)

  • Durasi: 137 menit
  • Genre: Drama
  • IMDB Rating: 7,8 / 10
  • Rotten Tomatoes Score: 96 / 100 %

Manchester by the Sea (2016) menyuguhkan kisah hidup Lee (Cassey Affleck) seorang petugas kebersihan, yang di sepanjang hidupnya terus mengalami kehilangan orang-orang terdekat.

Hal itu membuatnya tenggelam dalam kesedihan dan keputusasaan, membuatnya jadi pemabuk, penyendiri dan tempramental.

Hidupnya kian bertambah berat, karena terpaksa harus mengasuh keponakannya yang bernama Patrick, karena ia ditelantarkan oleh sang ibu, seorang pecandu narkoba.

Sepanjang perjalanan mengasuh Patrick, ragam ingatan buruk dan memori akan peristiwa kelam di masa lalu (riwayat masokis: tendensi melukai diri sendiri) yang dialami oleh Lee menyeretnya pada depresi berat yang tak berkesudahan.

Kira-kira bagaimana kisah film ini bisa jadi lebih “gelap” lagi? Tentu, film mental illness ini jadi sangat lengkap, karena menggambarkan bagaimana gangguan depresi, ditandai dengan kesedihan dan keputusasaan mendalam pada diri seseorang.

Kamu juga akan dapat memahami bahwa rasa berduka (grief) sangat kuat menggerus hati dan pikiran seseorang, dan menyeretnya pada gangguan depresi.

Meski begitu, bila kamu perhatikan lebih mendalam, dari film ini kita dapat belajar bahwa kehadiran seseorang yang bisa kita maknai keberadaannya, bisa saja jadi motivasi baru bagi hidup, dan mampu membantu kamu dalam melawan depresi.


Film Mental Health ala Indonesia

1. Babi Buta Yang Ingin Terbang (2008)

  • Durasi: 77 menit
  • Genre: Drama
  • IMDB Rating: 6 / 10
  • Rotten Tomatoes Score: 62 / 100 %

Babi Buta Yang Ingin Terbang (2008) mengisahkan tentang kisah hidup dari beberapa karakter yang terpisah, yang kesemuanya ber-etnis Tionghoa dan menghadapi permasalahan hidupnya masing-masing.

Ada karakter Verawati yang berprofesi sebagai atlit, yang tiba-tiba mulai dihadang dengan pertanyaan eksistensial, bahwa Bhinneka Tunggal Ika hanyalah sebatas kata “Indonesia” yang tertulis di punggung bajunya.

Lalu ada kisah karakter Halim, seorang dokter gigi yang mencoba menyayat kelopak matanya, agar terlihat belo dan tampak “lebih Indonesia”.

Dua kisah tersebut hanya sedikit, dari banyaknya permasalahan filosofis pada diri beragam karakter di film tersebut. Dimana, terkadang pertanyaan-pertanyaan filosofis seperti “apa fungsi kita hidup?’ mampu membawa permasalahan psikologis yang mendalam, dan bahkan depresi.

Meski tidak populer di Indonesia, perlu kamu ketahui bahwa film ini meraup banyak penghargaan, bahkan memenangkan 3 nominasi di Jakarta International Film Festival 2009.

Serta membawa pulang masing-masing 1 penghargaan di Singapore International Film Festival, dan Rotterdam International Film Festival pada tahun yang sama.


2. Sendiri Diana Sendiri (2015)

  • Durasi: 40 menit
  • Genre: Drama
  • IMDB Rating: 7,1 / 10
  • Rotten Tomatoes Score: – / 100 %

Sendiri Diana Sendiri (2015) mengisahkan hidup karakter Diana (Raihaanun) selepas sang suami meminta izin untuk dirinya menikah lagi (Poligami).

Premisnya memang sesederhana itu, tapi kamu akan disuguhkan penderitaan tanpa tangis yang umum muncul pada para ibu rumah tangga, pasca mendapati hal-hal yang mengejutkan, dari para suami.

Kamu juga akan dihadapkan pada kenyataan bahwa pada hubungan pernikahan, dalam beberapa kesempatan pasangan akan menunjukan pola hubungan pragmatis, dimana hubungan terjalin hanya berdasar pada manfaatnya saja.

Meski judul yang satu ini tidak cocok untuk disebut film tentang mental illness, tetapi masih masuk kategori Mental Health Movie karena kamu bisa memahami bagaimana perasaan orang lain, harus jadi pertimbangkan dibanding ego pribadi.


3. 27 Steps of May (2018)

  • Durasi: 112 menit
  • Genre: Drama
  • IMDB Rating: 8 / 10
  • Rotten Tomatoes Score: – / 100 %

27 Steps of May (2018) menyajikan pengalaman kelam yang dialami oleh May (Raihaanun) yang turut terdampak oleh Tragedi Mei 1998. Dimana dirinya menjadi korban pemerkosaan, yang mengubah hidupnya selamanya.

Pengalaman itu bukan hanya membekas secara fisik, tapi juga melukai psikologisnya. Tentu pemerkosaan adalah pengalaman traumatis, bagi siapapun.

Pada May, pengalaman tersebut membawanya pada depresi berat, yang membuatnya mengurung diri, bahkan selama bertahun-tahun.

Dalam perjalanan karakter tersebut, May juga memiliki tendensi menyakiti diri sendiri, dan hilang kendali pada beragam kesempatan.

Kesulitan yang dihadapi olehnya pun kini berdampak pada orang di sekitar, terutama sang Ayah, yang juga makin tempramen pada aktivitasnya di luar rumah.

Lantas apakah kisah May berakhir bahagia? Tentu kamu harus temukan jawabannya dengan menonton langsung film ini!

Terlebih dengan menyaksikan karya yang sempat masuk jadi Film Pilihan TEMPO 2018 ini akan memberikan kita pemahaman bahwa gangguan psikologis berupa depresi ialah gangguan psikologis yang serius.


Penutup

Mental Health Movie tidak melulu harus melibatkan karakter psikopat layaknya karater Joker. Karena menurut kami, itu terlalu metafor untuk kita resapi dalam kehidupan nyata.

Tema yang lebih realistis dan dekat dengan kenyataan kita sehari-hari pada film tentang depresi tentu lebih mudah dimaknai dan dipahami, betul?